Game Yang Aku Tamatkan di Tahun 2025

Salah satu tujuanku membuat website ini adalah sebagai media journaling tentang hal hal yang kusuka. 3 Tahun belakangan, aku hanya mencatat game-game yang aku tamatkan di tahun tersebut lewat chain replies di discord RRD. Silakan join channel discordnya di sini. Kebetulan, server ini dijalankan oleh aku dan teman-teman lain. Sebagai catatan, judul game yang ada di list ini (ataupun tiap tahunnya nanti) tidak harus rilis pada tahun tersebut. Ya, seperti teman-teman lainnya aku juga punya daftar backlog yang cukup panjang. Dengan mengurutkan dari game yang pertama aku tamatkan di tahun 2025, mari kita bahas secara singkat dan siapa tahu ada judul yang akan membuat kalian tertarik.

Monster Hunter Wilds

Monster Hunter Wilds adalah iterasi yang sangat tepat sebagai entri ke-enam seri ini. Dengan pendekatan single player open world seamless ala World dantraversal ala Rise, Capcom berhasil membuat Monster Hunter menjadi semakin streamline dan ramah untuk pemain baru. Wilds juga merupakan game yang sangat ambisius. Highlightnya adalah di efek environmental yang luar biasa dan opsi untuk membawa 2 tipe senjata setiap saat. Sayangnya, tidak cukup insentif bagi pemain untuk memilih 2 senjata yang dibawa secara strategis. Selain banyaknya isu teknikal (khususnya untuk pemain PC), secara keseluruhan Wilds rasanya kurang matang. Walaupun menjadi titel Monster Hunter yang paling ramah pemain baru, tingkat kesulitannya sering dikritik pada awal rilis. Capcom akhirnya bisa “menambal” beberapa isu tersebut, diantaranya dengan merilis beberapa title update. Pada akhirnya, Monster Hunter akan selalu menjadi game yang menantang untuk dikembangkan. Karena pada dasarnya, Monster Hunter bukanlah sebuah game multiplayer yang bersifat live service seperti yang populer saat ini.

Kena: Bridge of Spirits

Jujur saja, awalnya aku tertarik untuk main game ini karena ada beberapa unsur Indonesia di dalamnya. Namun ketika mulai main, justru aku malah agak lupa karena yang sangat kental bagiku adalah musik latarnya saja. Aku terkejut bahwa ternyata game ini sangat well made. Gameplay, khususnya battle dan desain dunianya sudah sangat solid dan proper. Menurutku game progression-nya sedikit tidak seimbang. Salah satunya adalah arrow ability yang sebaiknya sudah dapat diakses sejak awal. Premis cerita dan world building-nya sudah sangat baik, walaupun kadang aku ingat lagi kalau Kena: Bridge Of Spirits bukanlah AAA game.

The Last of Us Part II

Aku sependapat kalau The Last of Us Part II (TLOU II) adalah sebuah milestone dalam dunia video game dan salah satu mahakarya yang pernah ada. Naughty Dog memang juaranya soal urusan cinematic storytelling. Aku pribadi sudah menggemari gameplay The Last of Us sejak rilisan pertamanya. TLOU II merupakan penyempurnaan pendahulunya, yang sayangnya lebih banyak soal gameplaynya saja. Dengan semua kritik dan kontroversi yang ada, aku juga sependapat kalau plotnya berantakan dan rasanya memang premis game ini hanya tentang balas dendam saja. Tapi kembali lagi, menurutku The Last of Us II adalah salah satu game yang sempurna secara produksinya.

Clair Obscur: Expedition 33

Ini dia, game yang kalian bicarakan terus selama tahun 2025. Menurutku pribadi, Clair Obscur: Expedition 33 (COE 33) memang sangat pantas untuk mendapatkan seluruh perhatian tersebut. Sulit untuk tidak membicarakan COE33 tanpa cerita-cerita menarik di belakangnya, seperti bagaimana ajaibnya tim Sandfall Interactive terbentuk, studio “indie” VS studio AAA, dan lain sebagainya. COE 33 memang bukanlah definisi game yang revolusioner (mari berikan gelar ini untuk Zelda BoTW atau Elden Ring, misalnya). Tapi, COE 33 adalah sebuah game yang mampu dieksekusi dengan sangat efektif dan efisien. Contohnya dengan menggunakan modern tools untuk menunjang pengembangan gamenya. COE 33 merupakan iterasi JRPG yang ideal yang mungkin hanya Sandfall Interactive yang bisa melakukannya. Secara naratif, mau bagaimanapun juga COE 33 adalah salah satu game dengan cerita, world building, dan storytelling yang luar biasa. Secara gameplay, COE 33 sangat nostalgic untuk aku yang tumbuh kembang bersama JRPG. Kalau dipikir-pikir, kebanyakan hal yang menjadi keluhanku adalah hal-hal minor saja. Aku tahu kalian tidak perlu lagi mendapatkan validasi dariku soal COE 33. Tapi yang jelas, COE 33 adalah GOTY 2025 untukku pribadi.

Metaphor: ReFantazio

Menarik sekali rasanya setelah menamatkan COE33, aku memutuskan untuk menyelesaikan salah satu backlog JRPGku ini. Metaphor: ReFantazio rasanya seperti menjadi sebuah antitesis. Cara Atlus (dalam hal ini, Studio Zero) mengembangkan Metaphor rasanya bertolak belakang dengan Sandfall dan COE33nya. Walaupun dengan segala hal yang sudah di-streamline, Metaphor masih kental rasa klasik JRPGnya. Sebagai sebuah Not-Persona pertama karya Studio Zero, Metaphor sudah tepat arahnya. Salah satu yang menonjol adalah bagaimana battle system-nya yang sangat nagih dan fluid. Penggunaan job system melalui Archetype sangat pas dengan tingkat kesulitan yang memberi kita cukup banyak insentif untuk bongkar pasang party member dan Archetype-nya. Studio Zero terkenal dengan durasi game-nya yang panjang, dan Metaphor bukan pengecualian. Aku butuh lebih dari 100 jam untuk menamatkan Metaphor walaupun tidak mengejar platinum di PS5. Metaphor berhasil memperoleh penghargaan Best Narrative di The Game Awards 2024, jadi kualitas ceritanya tidak perlu diragukan. Secara naratif, Metaphor memang tidak menghadirkan sesuatu yang baru untuk sebuah fantasy JRPG. Namun, world building-nya luar biasa bagus dan pengambilan tema yang dewasa dan serius ini dieksekusi dengan sangat baik.

Ball x Pit

Ball x Pit adalah Balatro-nya 2025 buatku pribadi. Kalau Balatro mudah diterima karena mekanik poker, Ball x Pit menggunakan mekanik brick breaker/pinball. Sekitar 3 tahun belakangan memang aku menggemari game dengan elemen roguelite. Ball x Pit layaknya Vampire Survivors dengan steroid, yang lebih banyak melibatkan pemain dan lebih tactile rasanya. Perpaduan gameplay dengan durasi yang pas untuk membuat kita berpikir “satu run lagi deh” dan base building yang cukup basic tapi memberi insentif untuk lanjut run berikutnya adalah sebuah deesain game yang sangat cerdas. Ball x Pit tidak luput dari satu tantangan besar game roguelite, yaitu untuk membuat variasi upgrade dan karakternya well balanced sehingga setiap run terasa menarik. Ini membuatku seringkali kembali lagi memakai karakter dan upgrade yang itu-itu saja. Jumlah karakternya walaupun cukup banyak dan beragam, namun sayangnya tidak cukup untuk membuat kita mencoba kombinasi lain.

Ghost of Tsushima

Ghost of Tsushima adalah Ubisoft open world RPG bertema Jepang dengan menggunakan banyak formula yang sudah menjadi semacam comfort food untuk sebuah open world game. Walaupun begitu, Sucker Punch yang berasal dari Amerika mampu mengeksekusi tema klasik Jepang dan semua produksinya dengan sangat baik. Mengingat Ghost of Tsushima adalah judul open world game pertama mereka, ini adalah sebuah pencapaian yang perlu diacungi jempol. Sebagai sebuah game samurai, battle system-nya sudah cukup tepat. Hanya saja aku merasa moveset-nya cukup terbatas bahkan sampai endgame dan DLCnya, aku kira akan lebih menarik kalau ada opsi untuk membuat Jin lebih overpowered lagi. Open world game ala Ubisoft memang cukup mainstream dan terdengar membosankan, namun Ghost Of Tsushima berhasil menghadirkan narasi ala film samurai yang cukup segar walaupun memang tidak untuk semua orang.

Tahun 2025 aku menamatkan 7 game yang jumlahnya mungkin tidak lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. Kalau kalian, apa saja game yang ditamatkan di tahun 2025? apakah ada yang membuat kalian tertarik dari daftar game di atas? Semoga aku dan kita semua bisa menamatkan lebih banyak game di tahun 2026 dan sampai jumpa di daftar tahun depan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top